Banjir Bandang Terjang Nepal-Tibet, Ratusan Meninggal Dunia dan Lebih dari 1.300 Orang Hilang

Asar Humanity

28 Aug 2026 09:35

Banjir Bandang Terjang Nepal-Tibet, Ratusan Meninggal Dunia dan Lebih dari 1.300 Orang Hilang

Nepal, 26 Agustus 2026 -  Banjir bandang dahsyat menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026), menghancurkan rumah, menenggelamkan jalan, serta menghanyutkan sejumlah jembatan setelah runtuhnya gletser di kawasan Himalaya memicu aliran air dan material longsoran dalam jumlah besar. Hingga Kamis (27/8), sedikitnya 177 jenazah telah ditemukan di Nepal, sementara lebih dari 800 orang masih dinyatakan hilang. Operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan meski terkendala hujan dan kondisi geografis.

Bencana bermula ketika bagian gletser di kawasan Himalaya runtuh dan membawa material es, batu, serta sedimen dalam jumlah besar. Material tersebut kemudian memicu aliran deras yang bergerak menuju sungai di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet. Aliran air dan material longsoran selanjutnya menerjang wilayah di sepanjang sungai dan menyebabkan kerusakan parah.

Di Nepal, dampak terberat dilaporkan terjadi di Distrik Rasuwa, termasuk kawasan Timure dan Syapru Besi. Banjir membawa lumpur, batu, dan material lainnya hingga menghantam permukiman serta infrastruktur. Jalan dan jembatan di sejumlah wilayah ikut tersapu, menyebabkan beberapa kawasan sulit dijangkau oleh tim penyelamat.

Situasi serupa terjadi di wilayah Tibet. Sedikitnya 558 orang dilaporkan masih hilang dan tiga orang telah dikonfirmasi meninggal dunia. Belum dapat dipastikan apakah terdapat tumpang tindih antara data orang hilang di Nepal dan Tibet.

Ratusan warga negara asing juga dilaporkan masih hilang di kedua sisi perbatasan. Di Nepal, laporan menyebut mereka antara lain berasal dari India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Kanada. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian karena sejumlah kawasan terdampak merupakan jalur wisata dan perjalanan menuju wilayah pegunungan Himalaya.

Foto: Al-Jazeera

Operasi pencarian korban terus dilakukan menggunakan jalur darat maupun udara. Namun, tingginya permukaan air, lapisan lumpur yang tebal, medan yang sulit, serta rusaknya akses jalan dan jembatan menjadi tantangan bagi tim penyelamat dalam menjangkau wilayah terdampak.

US Geological Survey (USGS) menyatakan bahwa runtuhnya gletser dan aliran material longsoran (debris flow) menjadi pemicu utama bencana. Material yang terbawa arus juga menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya banjir susulan apabila aliran sungai kembali tersumbat oleh puing-puing dan material longsoran.

Hingga saat ini, situasi di Nepal dan Tibet masih berkembang. Proses pencarian korban, evakuasi warga, serta pendataan kerusakan terus dilakukan, sementara jumlah korban meninggal maupun orang yang masih hilang berpotensi berubah seiring berlangsungnya operasi penyelamatan.